"kami pekerja, suka membaca"

Selasa, 20 Mei 2014

Demi Rakyat (Para kepala negara yang sederhana mencintai rakyat)

Pengarang : Nur rokhim
Penerbit : Palapa
No : SPPT.0362-DP-0414
 
(Resensi Buku) Kisah Para Kepala Negara yang Merakyat
 Ditulis : M Romadlon,  20 Maret 2014 | 10:16

Judul Buku : Demi Rakyat!
Penulis : Nur Rokhim
Penerbit  : Palapa
Cetakan   : I, Februari 2014
ISBN : 978-602-255-100-3
Menjalani kehidupan dengan sederhana di zaman modern bukan hal mudah. Terlebih bagi para kepala negara yang hidupnya dikelilingi tahta dan limpahan harta. Sejarah mencatat, banyak para pemimpin negara lupa diri, yang menggunakan kekuasaanya untuk bermewah-mewah, berfoya-foya, dan menindas rakyatnya. Sebut saja kepala negara Filipina, Ferdinan Marcos dan Presiden Kongo,  Mobubu Sese Seko
Tentu, tidak semua kepala negara hidup berfoya-foya dan bermewah-mewah. Meski jumlahnya sedikit, masih ada kepala negara yang hidup sederhana, mengacuhkan dunia, dan sangat mencintai rakyatnya.
Buku Demi Rakyat! mengupas profil para kepala negara dari lintas zaman, lintas benua, dan lintas agama yang hidup dengan sangat bersahaja namun memiliki kecintaan yang sangat luar biasa pada rakyatnya.
Dari Jazirah Arab ada Mohammad Saw. Statusnya sebagai seorang kepala negara sekaligus rasul terakhir tidak menjadikan dirinya bermewah-mewah dalam hidupnya. Padahal kalau mau, bukit-bukit di Mekah akan diubah menjadi emas oleh Allah. (hal.12)
Saking sederhana, tidurnya hanya beralas tikar kasar dan di rumahnya hanya ada segengam gandung, daun penyamak kulit, dan sehelai kulit yang belum selesai di samak. Sehari makan sehari berpuasa. (hal.14)
Meski begitu, beliau sangat mencintai rakyatnya terlebih pada anak-anak yatim. Kencintaan pada umatnya melebihi kecintaan beliau pada diri sendiri. Bahkan, menjelang wafatnya, ia masih sempat menyebut umatnya tiga kali. (hal.17-18)
Kesederhanaan ini ditiru oleh para pengganti beliau. Abu Bakar misalnya, sebagai kepala negara tidak pernah mau menerima gaji. Maka, menjelang wafat beliau berpesan untuk mengembalikan semua barang kebutuhannya yang diambil dari Baitul Mal (kas negara). Bahkan, beliau berpesan untuk memberikan kebun miliknya untuk penggantinya. (hal. 24).
Di Indonesia ada Ir Soekarno dan Gus Dur. Sejarah mencatat, presiden pertama dan keempat ini sangat sederhana dan mencintai rakyatnya.
Saking sederhananya, sebagai seorang presiden, Bung Karno sering kehabisan uang untuk kebutuhan, tidak punya simpanan, dan tak punya rumah pribadi. Toh begitu, ia sangat tulus mencintai rakyatnya sehingga sampai sekarang rakyat pun masih mencintainya. (hal.71).
Sementara kesederhanaan Gus Dur diakui oleh para sahabatnya. Ahmad Tohari misalnya, mengatakan bahwa Gus Dur rela tidur hanya beralas karpet di rumahnya. Bondan Gunawan, mantan menteri Sekneg era Gus Dur mengatakan, kalau beliau adalah presiden paling kere. Dan, ajudanya pernah menyaksikan sendiri kalau beliau berkenan tidur beralas koran di lantai kereta. (hal 76-77)
Salah satu bukti kecintaan pada rakyat tampak saat ia berkenan mengundurkan diri untuk menghindari terjadinya perang saudara. (hal.79)
  Di Venezuela ada Hugo Claves. Presiden ke 53 ini terkenal getol membela hak dan kepentingan rakyat, karena sebelum menjadi presiden ia memang sudah akrab dengan kelaparan dan kemiskinan. Semua kebijakannya selalu berpihak pada rakyat jelata. Tak aneh bila angka kemiskinan turun hingga 50 %.(hal.98-99)
Selama menjabat, presiden beragama Katolik Roma ini berhasil menasionalisasi perusahan energi kelas kakap dunia, seperti Orinoco, Exxon Mobile, dan Conoco Philips (hal.100) 
Sedang di Bolivia ada Evo Morales. Presiden pribumi Bolivia ini terkenal getol melawan kebijakan Amerika. Saat terpilih jadi presiden, penganut Katolik Roma ini berjanji akan memotong setengah gajinya. Pemotongan ini dia gunakan untuk perluasan lapangan kerja, perbaikan pendidikan, dan kesehatan rakyat Bolivia. (hal. 131-132)
Tidak hanya itu, ia pun memberikan tanah seluas 3,1 juta hektar milik negara untuk rakyatnya, merevisi undang-undang tentang kesenjangan ekonomi dan kebijakan sosial bagi rakyat miskin, seperti pelayanan kesehatan gratis, pendidikan gratis, dokter untuk desa miskin, dan pinjaman dengan bunga rendah (hal. 133)
Sejarah dunia pun mencatat dengan tinta emas tentang kesederhanaan dan kecintaan pada rakyatnya yang ditunjukkan oleh para pemimpin lainnya. Sebut saja, di Amerika punya Harry S Truman, di Uruguwai ada Jose Mujica, di Afrika Selatan punya Nelson Mandela, di Malaysia ada Mizan Zaenal Abidin, sedang di Korea Selatan ada Kim Young Sam.
Para pemimpin berhati mulia itu laksana oase di tengah kegersangan jiwa para rakyat bangsanya. Bahkan, kisah inspiratif mereka adalah milik semua manusia lintas masa, agama, dan bangsa.  
Dari mereka kita belajar, bahwa hidup bukan sekedar tentang uang. Dan,  jabatan bukan kekuasaan semata melainkan amanat dari rakyat yang mesti ditunaikan dengan sepenuh jiwa.

Senin, 19 Mei 2014

Dunia Batin 2 Macan Asia

Pengarang : Juma D Putra
Penerbit : Palapa
No : SPPT.0361.DP-0414
 
Sekilas tentang isi buku
Dalam setiap diri manusia, diwarisi dunia batin yang membawanya kepada nilai kebijaksanaan untuk mengarungi hidup. Rakyat jelata hingga para pemimpin dunia dapat memilikinya, bahkan memperdalam spiritualitasnya. Banyak cara yang dapat ditempuh, mulai dari mendekatkan diri kepada Tuhan, hingga ritual-ritual mistik yang dipercaya oleh kalangan tertentu.
Buku ini mengungkapkan kisah dua sosok besar pemimpin Republik Indonesia, yaitu Soekarno dan Soeharto, dalam ranah spiritual. Biografi Soekarno berupaya mengungkapkan dunia batin dan pengembaraan spiritual “sang putra fajar”. Di antaranya adalah penggantian namanya semasa kecil, kemampuannya sebagai “dukun”, perjalanan menemui Nyi Blorong, hingga momentum dalam penjara yang membawanya menemukan Islam.
Sementara, perjalanan spiritual Soeharto memotret bagaimana laku hidupnya dalam melestarikan tradisi kejawen dalam kepemimpinannya. Soeharto dipercaya menyimpan berbagai benda pusaka, memiliki wahyu keprabon dalam diri istrinya, dan menjalankan pertapaan hingga menjadi presiden RI.
Di luar laku-laku spiritual tersebut, kedua pemimpin ini juga memiliki nilai kebijaksanaan yang diwarisinya sebagai anak bangsa. Semoga kita dapat meneladani nilai-nilai itu dalam kehidupan sehari-hari.
Selamat membaca!

Kamis, 08 Mei 2014

2012 Story ( mitos menyesatka dan pakta sebenarnya tentang tahun paling kontroversial dalam sejarah)

Pengarang ; Jhon Mayor Jenkins
Penerbit : Pt Gramedia Pustaka Utama
No : SPPT.0360-DP-0414
Di The 2012 Story temukan…
+ Kenapa kalender suku Maya hanya dibuat sampai tahun 2012.
+ Manfaat kalender kuno itu bagi kita di masa modern ini.
+ Bagaimana gagasan 2012 dipahami-dan diselewengkan-oleh akademisi tradisional, pelaku kegiatan spiritual, serta kebudayaan populer.
+ Apa kontroversi dan misteri utama seputar gagasan 2012.
+ Bagaimana kita bisa menyingkirkan kehebohan tentang 2012 dan menarik nilai kebijakan sejati suku Maya yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“John Major Jenkins, salah satu penulis paling terkemuka tentang topik 2012, membantu mengklarifikasi kehebohan ini.”

Suoer Sales (Optimalkan roh,seni,& humor untuk meningkatkan penjualan)

Pengarang : Dodi Mawardi
Penerbit : Pt Elex Media Komputindo
No : SPPT.0359-DP-0414

Rabu, 07 Mei 2014

Selasa, 06 Mei 2014

Sukses Management Sales Dengan Salesforce.Com

Pengarang : Jubilee Enterprise
Penerbit : Pt Elex Media Komputindo
No : SPPT.0357-DP-0414
 

SUKSES MANAJEMEN SALES DENGAN SALESFORCE.COM
Jika Anda memiliki banyak armada sales, baik yang tinggal di kantor pusat maupun yang tersebar di banyak tempat (dalam negeri maupun luar negeri), maka Anda membutuhkan buku ini. Terlebih jika Anda ingin mengarsipkan semua diskusi, data-data konsumen dan prospek, nilai penjualan, penjadwalan event, dan semua hal yang terkait dengan penjualan dan pemasaran perusahaan Anda.
Situs Salesforce.Com yang dikupas habis di buku ini merupakan sebuah situs yang dapat Anda pakai untuk memuluskan semua rencana pemasaran dan penjualan Anda. Berikut yang bisa Anda lakukan dengan situs Salesforce.Com:
- Mencatat kontak yang berkaitan dengan konsumen, pelanggan, prospek, sampai mitra-mitra bisnis Anda.
- Membuat akun-akun yang berkaitan dengan sales Anda, meliputi akun analis, competitor, customer, inventor, partner, reseller, dan sebagainya.
- Membuat event atau acara-acara yang digelar untuk mempromosikan serta menjual produk dan jasa Anda.
- Membuat daftar kampanye yang akan diselenggarakan dalam waktu singkat ataupun dalam jangka panjang.
- Mendata semua opportunity yang mungkin akan didapat dalam waktu dekat.
- Menambahkan dokumen-dokumen yang penting untuk transaksi bisnis.
- Dan lain sebagainya.
Dengan Salesforce.Com, tugas Anda tidak hanya jauh lebih praktis dan ekonomis, tapi arsip-arsip perusahaan yang berkaitan dengan sales dan pemasaran akan menjadi jauh lebih rapi dan terdokumentasi dengan baik. Akhir kata, jika mau sukses, silakan baca buku ini!

Rabu, 19 Maret 2014

Menjadi Pemimpin Politik

Pengarang : M Alfan Alfian
Penerbit : Pt Gramedia Pustaka Utama
No : SPPT.0356-DP-0314
Kehidupan adalah instink untuk menumpuk kekuasaan, di saat nafsu berkuasa berhenti, maka berhenti pulalah kemajuan peradaban.
Dalil ini, setidaknya, dipercaya oleh Frederich Nietzche, sang pengggas eksistensialisme. Meski banyak bukti yang bisa membalik asumsi garang itu, namun tak kurang-kurang pula catatan sejarah yang bisa menjadi alat pembenaran. Betapa dunia dipenuhi oleh peradaban-peradaban besar, yang dihela oleh manusia-manusia unggulan (sekaligus sangat pekat dipenuh naluri untuk berkuasa).
Dan buku ini sepenuhnya membincang genealogi (seluk beluk) kekuasaan. Terutama dalam terma kekuasaan politik. Begitu detil dan menelusur ke segala sudut. Mulai dari petikan-petikan filosofis-puitis tentang kekuasaan, dasar-dasar teori kekuasaan, ideologi, hingga catatan orang-orang besar yang pernah sangat berkuasa.
Nyaris saja, jika buku ini ditulis lebih tebal dan panjang, menjadi text book terpenting seputar politik dan kekuasaan (minimal untuk konteks pembaca di Indonesia). Satu hal perlu diingat, penulis buku ini tergolong pengamat politik prolifik, begitu produktif, dan mampu menulis pembahasan dengan ide berat, tetapi melalui bahasa yang mudah. Dia adalah M. Alfan Alfian, Alumni HMI dan kini menjadi pengajar Ilmu Politik di sejumlah kampus di Jakarta.
Bagian terpenting, buku ini mengurai pengertian dasar dari kekuasaan. Lewat telaah multi perspektif, penulis buku ini mengangkat satu pendekatan yang paling mudah, demi memahami makna kekuasaan. Di halaman 218 misalnya, dalam Bab Arti Penting Kekuasaan, menukil Robert A. Dahl, bahwa pada pokok batang kekuasan, hanya melulu menjulur dalam sejumlah ranting, yaitu : power, influece, authority, and rule. Sisanya, yang lain-lain adalah soal akar tunjang kekuasaan, tanah penyubur, atau mungkin dedaunan saja yang terdapat dalam “pohon besar” kekuasaan.
Sumber Kuasa
Kekuasaan diperoleh dari banyak sumber. Benar atau salah, faktual atau mitos, via jalan damai atau perang berdarah, bukanlah urusan penting. Maksudnya, banyak sumber dan banyak cara untuk memperoleh kekuasaan, dan agar kekuasaan dipercaya kebenarannya dan bisa langgeng, maka ia butuh “pembenaran”, atau dalam bahasa politik moderen disebut legitimasi.
Inilah yang penting. Bahwa ketika sumber kekuasaan diklim sebagai datang dari Tuhan, maka ia butuh legitimasi agama. Saat kekuasaan datang dari kekuatan takhayul (seperti Nyi Roro Kidul, dalam klaim raja-raja Mataram), maka ia butuh legitimasi mitos. Sementara di alam demokrasi moderen, sumber kekuasaan diperoleh melalui legitimasi hukum dan pemilu yang sah.
Jika pilar dasar kekuasaan telah diperoleh, maka langkah selanjutnya adalah menemukan basic of power atau basis kekuasaan. Perkara ini, seperti terurai di halaman 237 buku ini, terletak pada: (1) paksaan; (2) imbalan; (3) persuasi; dan (4) pengetahuan. Olehnya, muncul beragam istilah, seperti kekuasaan paksaan atau kekuasaan pengetahuan (the power of knowledge). Meski basis kekuasaan bergerak dalam empat alur itu, kesemuaanya tetap membutuhkan atribut kekuasaan, dalam bentuk simbol, ikon, sistem nilai, ideologi, atau bahkan konstitusi.
Atribut Kuasa
Hari ini kita mengenal lanskap baru dalam atribut kekuasaan, yaitu imagology (sebagai dasar filosofisnya), politik pencitraan (sebagai metode), dan kekuasaan televisual (sebagai wahana). Metodologi canggih tersebut, meski bersifat baru, tetapi sama sekali tak meninggalkan praktek-praktek pembenar kekuasaan yang sudah lazim, melainkan hanya mengemasnya secara menarik.
Dengan demikian, dalam politik pencitraan, mitos pun masih perlu. Hal ini, seperti ditegaskan Karen Armstrong, bahwa mitos bukanlah masalah informasi faktual, melainkan efektivitasnya (halaman 261). Selain mitos, juga pernak-pernik persepsi, yang terdapat dalam simbol, ikon, gambar, atau bahkan berita, sebagai bagian yang perlu hadil dalam pencitraan. Dengan demikian, kekuasaan juga adalah masalah persepsi.
Kembali lagi, seperti dikatakan Nietzche, bahwa hasrat berkuasa adalah penggerak kemajuan. Memang benar. Itupun jika menelisik bahwa ketika kekuasaan diperoleh, maka langkah berikutnya adalah melaksanakan dan melanggengkan kekuasaan. Di sinilah, para penguasa membutuhkan aksi nyata. Bagaimana?
Pemimpin Puisi
Ada individu dengan genggaman kekuasaan besar di tangan yang bertindak begitu produktif, mampu memuaskan dan menggiring pengikutnya mencapai tujuan-tujuan bersama. Tetapi ada juga penguasa yang gagal. Buku ini menyebutkan bahwa banyak kisi yang menjadikan pemimpin gagal ataupun berhasil. Salah satunya, dengan menyebut perlunya visi pemimpin dalam mengoperasikan kekuasaan.
Mengutip Richard Nixon, mantan Presiden AS, bahwa “pemimpin itu adalah puisi”, dan manager itu adalah prosa (lihat halaman 16). Di sini jelas, pemimpin bergerak dalam konteks imajinasi, menggerakan emosi, melakukan abstraksi, dan bermain dengan gagasan-gagasan visioner. Sementara manajer adalah bekerja karena adanya job description yang jelas. Pemimpin mengejar target yang akan datang, sementara manajer mengejar target hari ini. Dunia memiliki contoh penting, tentang penguasa yang maha besar, tetapi lenyap seketika, karena tak memiliki visi. Salah satunya, seperti ditulis Jhon Man, adalah Jenghis Khan!
Terakhir, sebagai pengingat, banyak juga contoh kepemimpinan dan genggaman kekuasaan yang menakjubkan, di tangan beberapa gelintir manusia terpilih. Misalnya, Mahatma Gandhi, yang dengan sadar memilih jalan ahimsa (tanpa kekerasan) dan swadesi (melayani kebutuhn sendiri). Hal ini, persis diungkapkan oleh Agus Salim, bahwa memimpin adalah menderita, atau Leiden is Lijden. Selamat membaca.


Senin, 17 Maret 2014

membongkar Kegagalan CIA

Pengarang : Tim Wainer
Penerbit : Pt Gramedia Pustaka Utama
No : SPPT.0355-DP-0314
 

Descriptions

Mengapa negara adidaya, lembaga spionasenya tak punya daya? Mengapa agen-agen dinas rahasia "polisi dunia" sekaliber AS beroperasi serampangan? Inilah keprihatinan mendasar buku yang memenangi berbagai penghargaan ini. Kesimpulannya, sejarah operasi intelijen CIA yangtelah berusia 60 tahun justru memangsa bangsa Amerika Serikat sendiri.
Menggunakan langgam reportase jurnalistik yang memikat, Tim Weiner, wartawan peraih Hadiah Pulitzer, menunjukkan bukti-bukti meyakinkan tentang betapa memalukannya kerja CIA. Diantaranya, agen-agen CIA mengetahui Tembok Berlin, simbol totalitarianisme rezim komunis Eropa Timur, runtuh pada 1989 dari siaran televisi, bukan dari pasokan analisis mata-mata yang bekerja di bawah tanah; ambruknya WTC pada 11 September 2001 dengan telanjang memeragakan kepada dunia bahwa agen-agen CIA tak becus mengantisipasi serbuan teroris.
Dinas intelijen terbesar di dunia ini melakukan blunder paling parah dalam sejarah panjang spionase: berbohong tentang eksistensi se.

Kamis, 13 Maret 2014

Pengakuan Algojo 1965

Pengarang : Kurniawan Etal
Penerbit : Tempo Publishing
No : SPPT.0354-DP-0314
 
Senin malam ini, 30 September, saya berkesempatan menghadiri peluncuran bukuPengakuan Algojo 1965, di Komunitas Salihara, Pasar Minggu. Undangan saya terima dari mention sahabat kompasianer mas Odi Shalahuddin di wall Facebook saya. Judul buku yang cukup sensitif, membuat saya penasaran ingin menghadirinya, selain juga karena versi film dokumenter dengan tema serupa berjudul The Act of Killing sudah saya lihat pada penghujung tahun 2012 lalu, walau hanya bisa saya saksikan di laman YouTube.
Adalah Anwar Congo, yang pada satu waktu dengan gagah beraninya membuat sebuah pengakuan bahwa dialah pembunuh banyak nyawa dari orang-orang yang dilabeli sebagai PKI (Partai Komunis Indonesia). Apa yang kemudian diakui Anwar membuat seorang sineas Joshua Oppenheimer mendokumentasikan ke dalam satu film dokumenter. Film itu sendiri telah diputar di Festival Film Toronto, Kanada.
Buku ini adalah versi lengkap investigasi Tempo edisi khusus, yang cukup komprehensif dan sangat menarik untuk disimak, karena mencoba mengupas tragedi peristiwa 30 September dari sudut pandang yang sangat berbeda dari yang kita dengar selama ini, yakni menelisik dari perspektif para algojo pembantai PKI. Menjadi penyeimbang sejarah yang sangat mungkin penuh bias dan fakta yang tertutupi atas nama keutuhan negara. Menjadi untold story yang sebelumnya terkubur dan tak pernah benar-benar terungkap dengan terang-benderang.
Membaca lembar demi lembar buku ini, kita seolah dibawa suasana kengerian di masa silam. Sungguh membayangkan saja rasanya sudah membuat saya sangat bergidik. Bagai viral yang sambung-menyambung, satu per satu mereka yang mengaku telah menjadi algojo bagi melayangnya banyak nyawa saudara sebangsa itu mengungkapkan kisahnya. Semua ditulis lengkap dengan identitas foto dan keadaan mereka terkini. Dan kebanyakan dari mereka tidak merasa bersalah apalagi menyesal telah menjadi eksekutor banyak nyawa manusia. Walau ada juga seorang algojo yang dikisahkan menghabiskan masa tuanya dalam kondisi terpasung akibat gangguan jiwa, setelah masa pembantaian itu berlalu sekian tahun. Diperlihatkan dalam sebuah foto kakinya terantai di jeruji besi.
Peluncuran buku dihadiri oleh beberapa tokoh dari Tempo, diantaranya Direktur Tempo Inti Media, Bambang Harymurti, Arif Zulkifli, Redaktur Eskutif Tempo, juga Goenawan Mohammad, yang Catatan Pinggir 10-nya pun ikut di-launching di acara ini. Topik yang hangat dan mencekam membuat semua yang hadir hening mendengarkan beberapa bagian penting buku ini dibacakan oleh penyair Sitok Srengenge di gedung Teater Salihara. Usai peluncuran, acara dilanjutkan makan malam bersama di rooftop gedung Salihara. Berikut beberapa liputan fotonya,Pada akhirnya sejarah akan terus menuntun jalannya sendiri untuk sampai pada kebenaran sejati, tak siapa pun bisa menahannya. Terlepas dari bias faktanya, tragedi pembantaian manusia atas manusia secara membabi buta tidak bisa dibenarkan atas nama apa pun. Tulisan sahabat kompasianer Yusran Darmawan cukup menjadi bukti, betapa pembantaian ala algojo ini meninggalkan luka dan trauma yang panjang. Semoga tragedi ini tak perlu terulang, meski jangan juga dilupakan. Dan semoga bangsa ini belajar dari torehan sejarah kelamnya.

Rabu, 12 Maret 2014

Ketika Cinta Menyatukan segalanya

Pengarang : Jack Canfield,Mark Viktor Hansen
Penerbit : Pt Gramedia Pustaka Utama
No : SPPT.0353-DP-0314
 

" Chicken Soup Series: Chicken Soup for the Bride's Soul (Ketika Cinta Menyatukan Segalanya) "
dan kisah-kisah nyata menyentuh lainnyaSetiap gadis, pada umumnya, pasti memimpikan hari pernikahannya-mengenakan gaun indah bak ratu sehari, berjalan anggun sambil bergandengan tangan di bawah tatapan kagum para tamu, dikelilingi rangkaian bunga indah. Chicken Soup for the Bride's Soul ini akan menemani Anda-sang calon pengantin-mengungkapkan banyak hal, sejak pertama kali bertemu sang pangeran, persiapan dan kehebohan menjelang pernikahan hingga akhirnya tiba harinya ketika komitmen sehidup semati itu diikrarkan.Kisah-kisah nyata yang menawan serta memberikan inspirasi dan hiburan di dalam buku ini akan menunjukkan makna cinta dan pengabdian yang sebenarnya, yang akan memberikan ketenangan dan menghapuskan stres serta kekhawatiran yang menyertai persiapan menghadapi pernikahan. Para calon pengantin dan mereka yang sudah menikah bertahun-tahun pasti akan menyukai kisah-kisah tentang lamaran, gaun pengantin, kenangan di hari pernikahan, tahun-tahun pertama perkawinan, dan makna perkawinan itu sendiri.Ada kisah tentang gaun pengantin yang mempertemukan cinta abadi; kisah tentang cinta murni calon pengantin pria terhadap tunangannya yang tengah menunggu maut menjemput; kisah tentang keabadian cinta mempelai wanita terhadap ayahnya yang telah tiada; dan kisah cinta yang dipertautkan kembali setelah 25 tahun berpisah.